Sungguh Berisi[K] : "Nyaris Mati, Belakangan"
Nyaris mati, belakangan. Bukan satu objek saja. Yang hampir mati adalah: manusia, keramaian, dan segala sesuatu yang melekat lengket pada sendi-sendi kehidupan manusia. Rumit sekali, belakangan. Bukan tentang omnibus law atau berita harian Brexit . Bukan. Lalu apa? Yang rumit adalah: aduh, apa? Baru terasa malam ini beberapa, entah peristiwa, entah bencana, atau apalah jenisnya, lambat laun mulai terakumulasi di kepala. Mulai dari hadirnya virus yang tak kasat mata tetapi tebarkan cemas, membungkam semesta. Covid-19, manusia menyebutnya. Ekonomi Indonesia terdampak, sekolah dan perkuliahan diganti via daring, ribuan santri dipulangkan, work from home diberlakukan, kepanikan menghiasi wajah semua lapisan, hingga masyarakat kelas menengah kebawah yang kalang kabut. Dan masih banyak ya lainnya? Lintas dunia, bahkan. Keresahan yang bertubi-tubi ini tentu saja bukan kita yang minta. Keresahan yang bertubi-tubi ini bahkan bisa jadi milik ku, dan bukan kita semu...