Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Sungguh Berisi[K] : "Nyaris Mati, Belakangan"

Nyaris mati, belakangan. Bukan satu objek saja. Yang hampir mati adalah: manusia, keramaian, dan segala sesuatu yang melekat lengket pada sendi-sendi kehidupan manusia. Rumit sekali, belakangan. Bukan tentang omnibus law atau berita harian Brexit . Bukan. Lalu apa? Yang rumit adalah: aduh, apa? Baru terasa malam ini beberapa, entah peristiwa, entah bencana, atau apalah jenisnya, lambat laun mulai terakumulasi di kepala. Mulai dari hadirnya virus yang tak kasat mata tetapi tebarkan cemas, membungkam semesta. Covid-19, manusia menyebutnya. Ekonomi Indonesia terdampak, sekolah dan perkuliahan diganti  via daring, ribuan santri dipulangkan,  work from home diberlakukan, kepanikan menghiasi wajah semua lapisan, hingga masyarakat kelas menengah kebawah yang kalang kabut. Dan masih banyak ya lainnya? Lintas dunia, bahkan.  Keresahan yang bertubi-tubi ini tentu saja bukan kita yang minta. Keresahan yang bertubi-tubi ini bahkan bisa jadi milik ku, dan bukan kita semu...

Sungguh Berisi[K] : "Karena Aku Tidak Baik"

Akhir- akhir ini aku lebih sering mencoba mengendurkan harapan-harapan; utamanya kepada manusia. Pun jika mereka diutus Tuhan untuk memadamkan atau membakar harapan-harapan ku di atas mereka-aku tidak akan bergantung lagi; termasuk pada diriku sendiri. Aku percaya, pasti bukan hanya aku yang pernah mencintai tapi dikhianati, menyodorkan tangan tapi ditimpas. Mencoba biasa saja bahkan ketika merasa sangat sakit. Dibarengi dengan ingin menjadi sesuatu selain manusia. Apapun itu. Seringkali mengasyikan memperhatikan orang lain bisa mendapatkan curahan cinta kasih; menyadari mereka mempunyai kehidupan yang baik nan indah. Dan punya segala sesuatu yang lain. Kemudian pikiran menelisik betapa kosong dan hampanya ruang-ruang di hati dan kepala; tidak ada orang yang menunggu bahkan menempati. Tidak ada yang menyambut dengan senyum atau tangis- entah atas apa aja. Dan saat ini tidak ada yang memenuhi isi otak ku kecuali perasaan dan rasa bersalah terhadap diri sendiri dan pada...

AKU

Kakiku mengenal banyak kadang,  yang sering menggundahkan langkah. Namun,hanya waktu yang tak punya kadang, karena ia selalu. Dan apabila tak ku melangkah, tubuhku akan membusuk di kemarin lalu. Dan tetiba,dalam langkahku suatu waktu, aku melihatmu. Namun kadang. Tapi kadang. Ah, persetan dengan kepalaku, biar ku berjalan kesitu dan mengecap rindu. Persetan dengan kadang, sebab mungkin denganmu, kadang-kadang ada selalu.

Tentang

Tentang sang pecundang dan sang pengecut. Ceritanya bungkam, hanya bisikan-bisikan bisu yang ditabiri jendela berdebu. Sang pecundang dan sang pengecut, Hanya natap dibalik ambang yang jadi pelantun rindu. Begitu terus sampai terkubur waktu.