Sungguh Berisi[K] : "Nyaris Mati, Belakangan"

Nyaris mati, belakangan. Bukan satu objek saja. Yang hampir mati adalah: manusia, keramaian, dan segala sesuatu yang melekat lengket pada sendi-sendi kehidupan manusia.

Rumit sekali, belakangan. Bukan tentang omnibus law atau berita harian Brexit. Bukan. Lalu apa? Yang rumit adalah: aduh, apa?

Baru terasa malam ini beberapa, entah peristiwa, entah bencana, atau apalah jenisnya, lambat laun mulai terakumulasi di kepala. Mulai dari hadirnya virus yang tak kasat mata tetapi tebarkan cemas, membungkam semesta. Covid-19, manusia menyebutnya. Ekonomi Indonesia terdampak, sekolah dan perkuliahan diganti via daring, ribuan santri dipulangkan, work from home diberlakukan, kepanikan menghiasi wajah semua lapisan, hingga masyarakat kelas menengah kebawah yang kalang kabut. Dan masih banyak ya lainnya? Lintas dunia, bahkan. 

Keresahan yang bertubi-tubi ini tentu saja bukan kita yang minta. Keresahan yang bertubi-tubi ini bahkan bisa jadi milik ku, dan bukan kita semua. Keresahan yang bertubi-tubi ini bisa saja, hanya bukan apa-apa.

Otakku bising alih-alih. Mencoba berpikir dengan segala angkuh. Mengurai satu persatu sampai seluruh.
Tapi malah bobrok nalarku, hancur berantakan sampai luruh.

Jadi manusia itu, menakutkan sekali kadang-kadang. Menyaksikan selimut gelap turun dari langit, lalu menyelimutinya. Menghalangi satir-satir semoga dari orang-orang jahat yang berusaha mencari keuntungan di tengah-tengah pandemik yang semakin subur.
Atau justru: kita tau siapa orang jahat itu tapi tidak bisa melakukan apa-apa.
Dan yang lebih mengerikan lagi: kita tidak sadar sudah menjadi bagian dari orang jahat itu, dengan tidak mematuhi kebijakan pemerintah dan arahan tenaga medis demi melayani ego dan memuaskan nafsu bedebah. Aduh, seram sekali.

Tapi, jadi manusia seringkali membahagiakan juga. Menyaksikan masih banyak orang bernurani yang semoga panjang umur. Pula menilik lembaran prosa yang menggetarkan bagi kemanusiaan.

Nanti, kalau semua keresahan yang bertubi-tubi ini selesai. Semesta akan bersorak sorai. Tangan tak lagi was-was berjabat tangan. Aktivitas sehari-hari tak perlu direvisi. Semuanya kembali normal. Semoga.

Biarlah, biar Tuhan saja yang bekerja untuk saat ini. Tentu, setelah imbauan pemerintah dan tenaga medis kita indahkan. Dan bantuan selebihnya, kita lakukan kalau mampu, punya tenaga lagi ikhlas.

Semoga yang sunyi saat ini, telah dan akan cemerlang esok hari.


Maaf Tuhan, dan siapapun.



[Kontribusi] Aku cuma diam saja, di rumah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulang Tahun atau Tahun Ulang

Sungguh Berisi[K] : "Ramadan Tiba dan Nostalgi{L}a Ramadan"

Tentang